Perempuan sering mendapatkan upah di bahaw laki-laki.

GEDSI: Memastikan Tidak Ada yang Tertinggal

Pernahkah kamu merasa diabaikan hanya karena kamu perempuan, penyandang disabilitas, atau berasal dari kelompok tertentu? Inilah yang ingin dicegah oleh pendekatan yang disebut GEDSI.

GEDSI adalah singkatan dari Gender Equality, Disability, and Social Inclusion โ€” atau dalam bahasa Indonesia: Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial. GEDSI mengidentifikasi bagaimana norma sosial, relasi, dan dinamika kekuasaan dialami oleh seseorang berdasarkan identitasnya โ€” termasuk gender, usia, disabilitas, pendapatan, pendidikan, ras, etnis, orientasi seksual, dan status migrasi.


Tiga Pilar GEDSI

1. Kesetaraan Gender

Kesetaraan laki-laki dan perempuan

Bukan sekadar soal perempuan. Kesetaraan gender tidak hanya berarti memperkuat suara perempuan, tetapi memastikan hak dan kesempatan yang setara bagi semua gender. Ini mencakup akses yang setara terhadap layanan, pekerjaan, dan pengambilan keputusan.

2. Disabilitas

Orang-orang dengan disabilitas

Inklusi disabilitas menekankan kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dalam masyarakat dan mengakomodasi kebutuhan serta kemampuan yang beragam โ€” termasuk disabilitas yang tidak terlihat, seperti kondisi kesehatan mental. DFAT secara khusus menyoroti bahwa disabilitas mencakup gangguan fisik, sensorik, psikososial, maupun kognitif, yang berinteraksi dengan hambatan fisik, sosial, komunikasi, dan kelembagaan.

3. Inklusi Sosial

orang miskin

Inklusi sosial mendorong partisipasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan program, dengan menciptakan lingkungan yang mendukung bagi kelompok yang tidak beruntung dan terpinggirkan. Kelompok ini bisa mencakup masyarakat adat, lansia, warga miskin, dan lainnya.


Mengapa GEDSI Penting?

Komite Tetap Antar-Lembaga PBB (IASC) mengakui GEDSI sebagai kewajiban hak asasi manusia yang terkait erat dengan pengurangan risiko bencana yang efektif. Bencana dan pandemi berdampak berbeda berdasarkan gender, usia, dan kondisi sosial, sehingga meningkatkan risiko dan kerentanan perempuan, anak perempuan, serta kelompok terpinggirkan lainnya.

Contoh nyata: WHO dan UNICEF secara khusus menerbitkan panduan kebijakan untuk memastikan kesetaraan akses vaksinasi COVID-19 bagi penyandang disabilitas โ€” karena tanpa pendekatan yang inklusif, kelompok ini berisiko tertinggal dari program kesehatan publik.

buku panduan gedsi

Siapa yang Harus Menerapkan GEDSI?

abdi masyarakat

Semua pihak โ€” pemerintah, lembaga pembangunan, organisasi masyarakat sipil, hingga dunia riset. Analisis GEDSI merupakan fondasi agar investasi pembangunan lebih efektif menjangkau kelompok yang kurang beruntung secara sosial, dengan mencegah kerugian yang tidak disengaja, pengucilan, dan marginalisasi lebih lanjut.

ILO bahkan menerbitkan panduan pengarusutamaan GEDSI di lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi, dengan tujuan agar tidak ada satu orang pun yang tertinggal dari kemajuan.

Prinsipnya sederhana: semua orang berhak untuk dilibatkan dan didengar, sesuai semangat SDGs โ€” leave no one behind.


Sumber

  • DFAT (Australian Government) โ€“ GEDSI Analysis Good Practice Note (2023) โ†’ dfat.gov.au
  • ILO (International Labour Organization) โ€“ Guide: Mainstreaming GEDSI in Vocational Education (2024) โ†’ ilo.org
  • UN Women โ€“ GEDSI Mainstreaming in Disaster Risk Reduction (2024) โ†’ unwomen.org
  • WHO & UNICEF โ€“ Disability Considerations for COVID-19 Vaccination (2021) โ†’ who.int
  • SUMERNET / Stockholm Environment Institute โ€“ Engaging a GEDSI Lens in Research and Development Projects โ†’ sumernet.org

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *