5 remaja dengan beragam ekspresi gender

Gender: Lebih dari Sekadar Laki-Laki atau Perempuan

Banyak orang mengira gender dan jenis kelamin adalah hal yang sama. Keduanya memang berkaitan, tetapi sebenarnya merujuk pada dua hal yang sangat berbeda. Memahami perbedaan ini penting โ€” bukan hanya untuk akademisi, tetapi untuk siapa saja yang ingin memahami mengapa pengalaman hidup perempuan, laki-laki, dan kelompok lainnya bisa sangat berbeda di masyarakat.


Jenis Kelamin: Soal Biologi

Remaja perempuan dan remaja laki-laki

Jenis kelamin (sex) adalah kategori biologis. Jenis kelamin merujuk pada karakteristik fisik dan fisiologis yang membedakan perempuan, laki-laki, dan individu interseks โ€” termasuk kromosom, hormon, dan organ reproduksi.

Secara umum, jenis kelamin dibagi menjadi laki-laki dan perempuan. Namun, ada pula individu interseks โ€” yaitu seseorang yang lahir dengan karakteristik seks yang tidak sepenuhnya masuk ke dalam definisi umum tubuh laki-laki atau perempuan. Artinya, bahkan secara biologis pun, kategori jenis kelamin tidak selalu hitam-putih.

Untuk membaca artikel mengenai “Apa Itu Jenis Kelamin” silahkan klik di sini ya.


Gender: Soal Masyarakat dan Budaya

Di sinilah perbedaan mendasarnya. Gender merujuk pada karakteristik perempuan, laki-laki, anak perempuan, dan anak laki-laki yang dibentuk secara sosial. Ini mencakup norma, perilaku, dan peran yang diasosiasikan dengan menjadi perempuan, laki-laki, anak perempuan, atau anak laki-laki, serta hubungan di antara mereka.

Sederhananya: jenis kelamin kamu ditentukan oleh biologi, tetapi gender dibentuk oleh masyarakat di sekelilingmu โ€” oleh keluarga, budaya, agama, media, dan institusi.

Contoh nyata yang mudah dipahami: tidak ada yang secara biologis “menentukan” bahwa perempuan harus memasak atau laki-laki tidak boleh menangis. Itu adalah ekspektasi sosial yang berbeda-beda di setiap budaya dan berubah dari masa ke masa โ€” inilah yang disebut norma gender.

Seorang pria memakai apron sedang memasak

Empat Konsep Penting dalam Gender

Agar lebih jelas, ada empat istilah yang perlu dipahami:

1. Norma Gender

Dua bayi memakai pakaian berwarna pink dan biru

Adalah aturan tidak tertulis dari masyarakat tentang bagaimana seseorang “seharusnya” bersikap, berpenampilan, dan berperan berdasarkan gendernya. Norma gender mendefinisikan peran, perilaku, dan atribut yang dianggap pantas oleh masyarakat bagi laki-laki, perempuan, dan identitas gender lainnya. Norma inilah yang sering memicu diskriminasi ketika seseorang tidak memenuhinya.

Contoh: Warna pink dianggap “warna perempuan” dan biru “warna laki-laki” โ€” padahal ini murni konstruksi budaya yang berbeda-beda antarzaman dan antarnegara (di Eropa abad ke-19, justru pink sempat diasosiasikan dengan anak laki-laki).

2. Peran Gender

Adalah tugas dan posisi yang secara sosial diberikan kepada seseorang berdasarkan gendernya โ€” misalnya anggapan bahwa perempuan adalah pengasuh utama anak, atau laki-laki adalah pencari nafkah utama. Peran dan norma gender mencerminkan ekspektasi dan persepsi budaya tentang bagaimana seseorang seharusnya berperilaku, bertindak, atau mengekspresikan diri berdasarkan gender yang diatribusikan kepada mereka.

Contoh: Perempuan sering diarahkan ke peran administratif, perawatan, atau pendidikan (perawat, guru, resepsionis), sementara laki-laki diarahkan ke peran kepemimpinan, teknik, atau pengambilan keputusan strategis (manajer, insinyur, direktur). Padahal perempuan yang berkemampuan menjadi pemimpin juga banyak.

Perempuan bekerja kantor dan laki-laki bekerja memasak

3. Identitas Gender

seseorang berhak menentukan gendernya sendiri

Adalah pemahaman diri seseorang tentang gendernya sendiri. Identitas gender merujuk pada pengalaman internal dan individual yang sangat personal tentang gender seseorang, yang mungkin sesuai atau mungkin tidak sesuai dengan jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir โ€” termasuk rasa terhadap tubuh dan ekspresi gender lainnya seperti cara berpakaian, berbicara, dan bersikap.

Identitas gender adalah pengalaman pribadi yang hanya bisa diketahui dari pengakuan orang itu sendiri โ€” orang lain tidak bisa menentukan identitas gender seseorang dari penampilan fisiknya saja.

4. Ekspresi Gender

Adalah cara seseorang menampilkan gendernya kepada dunia luar โ€” melalui pakaian, potongan rambut, gaya bicara, atau perilaku sehari-hari. Ekspresi gender seseorang belum tentu mencerminkan identitas gender atau jenis kelaminnya.

Contoh kasus sehari-hari yang sering memicu komentar sosial. Seorang anak laki-laki yang membawa tas berwarna pink ke sekolah, atau seorang perempuan dewasa yang berjalan dengan gaya tegas dan suara lantang di ruang publik, sering mendapat tatapan atau komentar dari orang sekitar, ini menunjukkan bagaimana masyarakat masih menilai ekspresi gender berdasarkan norma yang berlaku, meski ekspresi tersebut tidak merugikan siapa pun.

Penting dicatat: ekspresi gender seseorang tidak otomatis mencerminkan identitas gender atau orientasi seksualnya. Seorang laki-laki yang berekspresi feminin belum tentu transgender atau gay โ€” begitu pula sebaliknya. Menilai identitas atau orientasi seseorang hanya dari ekspresi gendernya adalah bentuk asumsi yang bisa keliru dan berpotensi menstigma.

anak laki-laki memakai tas pink

Gender Bukan Sekadar Dua Pilihan

perempuan berhijab bermeditasi merenungi makna gender

Selama ini banyak orang berpikir gender hanya ada dua: laki-laki dan perempuan. Namun kenyataannya lebih beragam. Gender adalah identitas, peran, dan atribut yang dibentuk secara sosial dan dianggap pantas bagi seseorang oleh masyarakat berdasarkan jenis kelaminnya โ€” dan maknanya bisa sangat bervariasi antara satu masyarakat dengan masyarakat lain.

Ada individu yang mengidentifikasi dirinya sebagai non-binary โ€” tidak sepenuhnya laki-laki maupun perempuan. Ada pula yang gender fluid, yang merasakan gendernya berubah dari waktu ke waktu. Sementara itu, seseorang yang transgender adalah mereka yang mengidentifikasi dirinya dengan gender yang berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir.

Penting untuk dipahami bahwa identitas gender tidak sama dengan orientasi seksual. Keduanya adalah hal yang terpisah.


Mengapa Perbedaan Ini Penting?

Dalam kerangka determinan sosial kesehatan milik WHO, gender dipahami sebagai atribut, peran, tanggung jawab, dan ekspektasi sosial yang dilekatkan kepada individu berdasarkan ekspresi gendernya โ€” yang berbeda dari jenis kelamin yang menyangkut karakteristik biologis, fisiologis, genetik, dan hormonal tubuh seseorang.

Artinya, gender secara langsung memengaruhi kesehatan, peluang hidup, akses terhadap layanan, dan pengalaman diskriminasi seseorang. Ketika individu atau kelompok tidak “cocok” dengan norma gender yang berlaku, mereka kerap menghadapi stigma, praktik diskriminatif, atau pengucilan sosial โ€” yang semuanya berdampak buruk pada kesehatan.

Memahami bahwa gender adalah konstruksi sosial โ€” bukan takdir biologis โ€” adalah langkah pertama menuju masyarakat yang lebih adil bagi semua orang.

Lima remaja dengan beragam ekspresi gender

Sumber

  • WHO โ€“ Gender and Health โ†’ who.int
  • WHO Regional Office for Europe โ€“ Gender โ†’ who.int/europe
  • UN Free & Equal (OHCHR) โ€“ Definitions & Terminology on LGBTIQ+ People and Human Rights โ†’ unfe.org
  • OHCHR โ€“ The Struggle of Trans and Gender-Diverse Persons โ†’ ohchr.org
  • PMC / NCBI โ€“ Measurement of Gender as a Social Determinant of Health in Epidemiology (2021) โ†’ pmc.ncbi.nlm.nih.gov
  • PMC / NCBI โ€“ Inequitable Gender Norms and Its Associated Factors (2022) โ†’ ncbi.nlm.nih.gov
  • NIH / Oxford Academic โ€“ Gender as a Social and Structural Variable (2023) โ†’ academic.oup.com

Artikel Terkait

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *