3 orang pencuri berusaha membongkar smartphone

Keamanan Digital bagi Teman-Teman Disabilitas: Mengapa Penting dan Bagaimana Cara Menjaganya

Hampir semua aktivitas kita sekarang berhubungan dengan internet, mulai dari mengurus dokumen, berbelanja, hingga mengobrol dengan keluarga. Bagi penyandang disabilitas, internet membuka banyak peluang yang sebelumnya sulit dijangkau. Sayangnya, kemudahan ini juga membawa risiko. Beberapa penelitian dan lembaga internasional menemukan bahwa penyandang disabilitas justru lebih rentan menjadi korban kejahatan siber dibandingkan masyarakat umum.


Mengapa Penyandang Disabilitas Lebih Rentan?

Seorang pria duduk di kursi roda terkejut melihat smartphone di tangannya.

Sebuah kajian akademik yang diterbitkan oleh Springer Nature menyoroti bahwa metode keamanan digital seperti kata sandi dan verifikasi identitas tidak banyak berubah meski teknologi terus berkembang, sehingga masih menyulitkan banyak pengguna dengan kebutuhan berbeda. Artinya, alat pengaman yang dianggap “standar” oleh kebanyakan orang belum tentu mudah digunakan oleh semua orang.

Selain itu, organisasi AbilityNet di Inggris mencatat bahwa salah satu hambatan terbesar adalah kesulitan mengenali email atau pesan penipuan (phishing), terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan, kognitif, atau pemahaman bahasa.

Risiko lain datang dari sisi alat bantu itu sendiri. Lembaga Sherwen menjelaskan bahwa pelaku kejahatan siber kadang menyasar fitur aksesibilitas dan teknologi bantu (assistive technology), dan perangkat lama yang sudah tidak mendapat pembaruan keamanan menjadi lebih rentan dieksploitasi sehingga data penggunanya berisiko bocor.

Sementara itu, lembaga advokasi Disability Rights Texas mengingatkan bahwa banyak penyandang disabilitas perlu mengandalkan bantuan orang lain untuk mengakses layanan daring, dan jika orang yang dipercaya itu tidak amanah, ketergantungan tersebut justru bisa menambah risiko penyalahgunaan data pribadi.


Bentuk-Bentuk Ancaman yang Perlu Diwaspadai

  1. Phishing (penipuan lewat email/pesan) — pesan palsu yang berpura-pura berasal dari bank, layanan streaming, atau instansi resmi untuk mencuri data pribadi.
  2. Penipuan oleh orang terdekat (familiar fraud) — situs Security.org mencatat bahwa orang yang dipercaya seperti pasangan atau pendamping kadang menjadi pelaku jenis penipuan identitas yang disebut familiar fraud.
  3. Perundungan siber (cyberbullying) — riset yang dikutip WizCase menunjukkan sekitar 34,3% penyandang disabilitas memilih diam saja ketika mengalami perundungan daring, padahal melaporkan kejadian tersebut penting untuk perlindungan diri.
  4. Malware yang mengganggu alat bantu, misalnya perangkat lunak jahat yang merusak fungsi pembaca layar (screen reader).
Smartphone di tangan dengan layar membuka situs bank palsu

Langkah Sederhana untuk Lebih Aman

Orang buta sedang mendengarkan smartphone-nya
  • Jangan langsung klik tautan di email atau pesan. Jika ragu, buka situs resminya sendiri lewat browser, jangan lewat tautan yang dikirim.
  • Gunakan kata sandi yang kuat dan berbeda di setiap akun. Hindari memakai tanggal lahir atau nama yang mudah ditebak.
  • Aktifkan verifikasi dua langkah (two-factor authentication) bila tersedia, karena ini menambah lapisan keamanan meski kata sandi bocor.
  • Perbarui perangkat dan aplikasi secara rutin, termasuk perangkat bantu, agar celah keamanan lama segera tertutup.
  • Batasi informasi pribadi yang dibagikan di media sosial, dan atur akun ke mode privat jika memungkinkan.
  • Libatkan orang yang benar-benar dipercaya saja jika membutuhkan bantuan mengakses akun daring, dan sesekali periksa bersama riwayat transaksi atau aktivitas akun.
  • Laporkan jika mencurigai penipuan atau pelecehan daring, baik ke platform terkait maupun ke pihak berwenang setempat.

Penutup

Keamanan digital bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal kesetaraan akses. Ketika alat pengaman dirancang tanpa mempertimbangkan keberagaman pengguna, penyandang disabilitas yang paling sering terdampak. Karena itu, edukasi yang sederhana dan mudah dipahami, serta dukungan dari orang-orang terdekat yang tepercaya, menjadi kunci agar dunia digital bisa dinikmati dengan lebih aman oleh semua orang.


Sumber:

  1. Furnell, S. et al. Disadvantaged by Disability: Examining the Accessibility of Cyber Security. Springer Nature Link, 2021.
  2. AbilityNet. Inclusive Cybersecurity: How to Ensure Digital Safety is for Everyone. abilitynet.org.uk
  3. Sherwen Studios. How Inclusive Cybersecurity Keeps Vulnerable Users Safe. sherwen.com
  4. Disability Rights Texas. Cybersecurity for People with Disabilities. disabilityrightstx.org
  5. Security.org. The Complete Guide to Accessibility and Digital Security. security.org
  6. WizCase. Online Safety Guide for People With Disabilities. wizcase.com

Catatan: artikel ini bertujuan edukatif umum dan bukan pengganti konsultasi langsung dengan ahli keamanan siber atau lembaga perlindungan konsumen setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *