Lima orang dengan beragam disabilitas

Jenis-Jenis Disabilitas: Mengenal Keberagaman yang Sering Tak Terlihat

Ketika kita berbicara tentang disabilitas, sering kali yang terbayang hanya kursi roda atau tongkat. Padahal, disabilitas hadir dalam banyak bentuk, ada yang tampak jelas, ada yang sama sekali tidak terlihat dari luar. Lalu, bagaimana dunia internasional mendefinisikan dan mengelompokkannya?


Dasar Pengelompokan Internasional

Ada dua kerangka besar yang diakui secara internasional untuk memahami jenis-jenis disabilitas:

Pertama, CRPD (Konvensi PBB, 2006). Pasal 1 CRPD menyatakan bahwa penyandang disabilitas mencakup mereka yang memiliki gangguan fisik, mental, intelektual, atau sensorik jangka panjang yang โ€” ketika berinteraksi dengan berbagai hambatan โ€” dapat menghalangi partisipasi penuh dan efektif mereka dalam masyarakat secara setara dengan orang lain.

Kedua, ICF (International Classification of Functioning, Disability and Health) milik WHO. ICF adalah kerangka standar internasional untuk mengukur kesehatan dan disabilitas, baik di tingkat individu maupun populasi, yang telah resmi disetujui oleh 191 negara anggota WHO pada tahun 2001. Berbeda dengan CRPD yang mengklasifikasikan disabilitas berdasarkan jenis gangguan, ICF melangkah lebih jauh dengan mempertimbangkan faktor lingkungan dan konteks sosial yang mempengaruhi kehidupan seseorang.

Kedua kerangka ini saling melengkapi: CRPD berfokus pada hak, sementara ICF berfokus pada fungsi dan kebutuhan.

Untuk membaca “CRPD: Perjanjian Dunia untuk Hak-Hak Penyandang Disabilitas” silahkan klik di sini ya.


Empat Jenis Utama Disabilitas

1. Disabilitas Fisik

Seorang di kursi roda yang terhalang tangga

Disabilitas fisik berkaitan dengan gangguan pada kemampuan gerak dan fungsi tubuh. Ini mencakup kondisi seperti kelumpuhan, amputasi, cerebral palsy, atau kondisi lain yang mempengaruhi mobilitas dan koordinasi tubuh. Contoh konkretnya adalah seseorang dengan kaki yang lumpuh โ€” gangguan ini dapat menghalangi aktivitas dasar seperti berdiri, berjalan, atau menaiki tangga.

Hambatan terbesar bagi penyandang disabilitas fisik sering bukan kondisi tubuhnya sendiri, melainkan lingkungan yang tidak ramah โ€” gedung tanpa ramp, transportasi publik yang tidak aksesibel, dan sebagainya.

2. Disabilitas Sensorik

Seorang buta yang dituntun seekor anjing

Disabilitas sensorik mempengaruhi satu atau lebih indra. Bentuk yang paling umum adalah gangguan penglihatan (termasuk kebutaan dan penglihatan rendah) dan gangguan pendengaran (termasuk ketulian dan kehilangan pendengaran sebagian).

Penting untuk dipahami bahwa disabilitas sensorik tidak harus berarti kondisi total. Seseorang yang hanya bisa melihat dengan cahaya tertentu, atau yang hanya bisa mendengar suara keras, tetap termasuk dalam kategori ini dan berhak mendapatkan akomodasi yang layak.

3. Disabilitas Intelektual dan Kognitif

Seorang anak dengan disabilitas kognitif

Disabilitas kognitif mencakup kondisi yang mempengaruhi memori, belajar, pemecahan masalah, perhatian, dan komunikasi. Disabilitas intelektual, cedera otak traumatik, dan demensia semuanya termasuk dalam kategori ini.

Klasifikasi disabilitas intelektual dan belajar termasuk yang paling kompleks, dan para ahli menggunakan dua sistem rujukan utama: ICD-11 (International Classification of Diseases) dari WHO dan DSM-5-TR (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) untuk membantu identifikasi dan diagnosa.

Penyandang disabilitas intelektual sering menghadapi stigma yang tidak semestinya โ€” padahal dengan dukungan yang tepat, mereka dapat berpartisipasi penuh dalam kehidupan bermasyarakat.

4. Disabilitas Psikososial (Kesehatan Jiwa)

Seorang lelaki dengan disabilitas mental yang sedang bekerja

Ini adalah jenis yang paling sering disalahpahami. Disabilitas psikososial muncul dari kondisi psikiatris yang secara signifikan mempengaruhi cara berpikir, regulasi emosi, atau perilaku seseorang dalam jangka waktu lama. Kondisi ini meliputi gangguan kecemasan, depresi, skizofrenia, gangguan bipolar, dan gangguan kepribadian.

Dalam CRPD, penyandang disabilitas psikososial secara khusus mendapat perhatian melalui Pasal 12 yang menjamin kesetaraan mereka di hadapan hukum, termasuk hak untuk membuat keputusan atas diri sendiri. Disabilitas mental adalah salah satu yang paling terstigmatisasi โ€” dan karenanya paling jarang dilaporkan โ€” dari semua jenis disabilitas.


Satu Orang, Bisa Lebih dari Satu Jenis

Penting untuk diingat bahwa seseorang bisa mengalami lebih dari satu jenis disabilitas sekaligus. Seorang lansia bisa mengalami gangguan pendengaran (sensorik) sekaligus gangguan memori (kognitif). Seorang perempuan dengan cerebral palsy (fisik) mungkin juga mengalami kesulitan bicara (komunikasi). Keberagaman ini yang membuat pendekatan inklusif harus bersifat personal dan tidak seragam.

Seorang nenek memakai tongkat dan pikun

Disabilitas Tidak Selalu Tampak

Kerangka ICF WHO mencakup lebih dari 1.200 kategori yang menggambarkan spektrum jenis gangguan โ€” termasuk yang bersifat fungsional, berbasis gejala, maupun anatomis โ€” dengan mempertimbangkan faktor lingkungan yang dapat memperburuk atau justru meringankan kondisi seseorang. Ini mengingatkan kita bahwa disabilitas bukan sekadar soal apa yang terlihat, tetapi soal bagaimana seseorang dapat hidup dan berpartisipasi โ€” dan hambatan apa yang menghalangi mereka untuk melakukannya.


Sumber

  • UN DESA โ€“ CRPD Article 1: Definition โ†’ social.desa.un.org
  • WHO โ€“ International Classification of Functioning, Disability and Health (ICF) โ†’ who.int
  • CDC โ€“ ICF: Classification of Diseases, Functioning, and Disability โ†’ cdc.gov
  • Springer Nature / Encyclopedia of Gerontology โ€“ Disability Types โ†’ link.springer.com
  • PMC / NCBI โ€“ “Capacity”, “best interests”, “will and preferences” and the UN CRPD โ†’ ncbi.nlm.nih.gov
  • PMC / NCBI โ€“ ICF Framework and Sport Participation among People with Disabilities โ†’ ncbi.nlm.nih.gov

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *